Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sayidina Umar & Sayidina Ali pada Takdir

Orang sering berasumsi kalau takdir ialah determinasi telak yang tidak dapat dijauhi ataupun diganti. Sementara itu dalam takdir yang sudah didetetapkan oleh Allah SWT, orang masih sanggup dihadapkan pada pilihan- pilihan takdir.

takdir Andrew Hidayat KPK

Muhammad Quraish Shihab dalam Pemahaman Al- Qur’ an: Pengertian Maudhui atas berbagai Perkara Umat (2000) melukiskan kalau api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin bisa memunculkan kesegaran ataupun dingin. Itu suratan Tuhan- manusia bisa memilih api yang membakar ataupun angin yang adem.

Di sinilah pentingnya wawasan serta perlunya ajaran ataupun petunjuk Ilahi. Quraish Shihab mengatakan salah satu berkah yang dianjurkan Rasulullah adalah:" Wahai Allah, jangan Engkau biarkan aku sendiri (dengan pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."

Pada saat di Syam (sekarang area Syria, Palestina, serta sekelilingnya) terjalin wabah, Khalifah Umar bin Khattab yang kala itu bermaksud bertamu ke situ membatalkan rencana beliau, serta ketika itu tampak seseorang bertanya.

Kita semua juga bisa merenungi cerita yang sempat terjalin pada era kekhalifahan Umar bin Khattab. Di mana pada era pemerintahan dia sempat terjadi wabah yang berasal di wilayah Awamas, suatu kota sisi barat Yerusalem, Palestina.

Muhammad Husein Haekal dalam Umar bin Khattab memaparkan, kala itu wabah menjalar sampai ke Syam (Suriah) bahkan ke Irak. Diperkirakan peristiwa wabah ini terjalin pada akhir 17 Hijriah serta mengakibatkan kepanikan massal dikala itu. Sayidina Umar serta pasukannya disarankan untuk berbalik.

Tetapi, salah seseorang kawan berkata, apakah lalu ia sebagai atasan kabur dari suratan Allah? Umar menjawab kalau dirinya serta pasukannya lari dari suratan Allah yang satu (kurang baik) ke suratan Allah yang lain( bagus).

Mendadak, sahabat Abdurrahman bin‘ Auf menguatkan Khalifah Umar mengenai sabda Rasul Muhammad SAW yang sempat berkata:

"Bila kamu mengikuti wabah tha’ un menyerang sesuatu negara, maka janganlah anda memasukinya. Adapun bila penyakit itu menyerang sesuatu negara sedang kalian- kalian di dalamnya, maka janganlah kamu lari pergi dari negara itu.” (Muttafaqun‘ alaihi, HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pula kala Sayidina Ali bin Abi Thalib lagi bersandar bertumpu di satu tembok yang nyatanya lemah, dia pindah ke tempat lain. Sebagian orang di sekelilingnya menanya seperti pertanyaan di atas.

Balasan Ali bin Thalib seperti yang dibeberkan Quraish Shihab( 2000), sama intinya dengan balasan Khalifah Umar. Rubuhnya tembok serta berjangkitnya penyakit merupakan berdasarkan hukum- hukum yang sudah ditetapkan- Nya.

Apabila seorang tidak menjauh beliau akan menerima akibatnya. Dampak yang menimpanya itu pula merupakan takdir, namun apabila beliau menjauh dan bebas dari marabahaya maka itu juga takdir.

Bukankah Tuhan sudah menganugerahkan orang kemampuan memilah serta memilih? Keahlian ini juga antara merupakan ketetapan ataupun takdir yang dianugerahkan- Nya. Bila begitu, orang tidak bisa luput dari takdir yang bagus ataupun kurang baik.

lain Tidak bijak bila hanya yang mudarat saja yang diucap takdir, sebab yang positif juga takdir. Yang begitu ialah tindakan tidak menyucikan Allah, dan bertentangan dengan petunjuk Rasul Muhammad SAW,"... dan kalian wajib yakin pada takdir- Nya yang bagus ataupun yang buruk.”

Dengan begitu, nyata kalau terdapatnya takdir tidak membatasi orang buat berupaya memastikan masa depannya sendiri, sembari berharap bantuan Ilahi.

Posting Komentar untuk "Kisah Sayidina Umar & Sayidina Ali pada Takdir"